RSS Feed
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru

MITRA
image

ANGKRINGAN NAMBAH TERUS SEMARANG

WELCOME

PARIWISATA
image

GO JATENG GAYENG 2018

INFO REDAKSI
image

Pimred Koran Suara Rakyat

ANDI TRIS SN


Silahkan Hubungi Kami
Kategori
Arsip
HOBY
image

Komunitas Mobil HBC

MITRA
image

LBH LINDU AJI

SAIKI JAM

Drs.Hadi Prabowo,MM Ingin Jadi Pemimpin Bukan Penguasa

image

Semarang ,KSR.COM - Apa beda pemimpin dan penguasa? Jika pertanyaan itu ditunjukan pada masyarakat awam, tentu tak akan muncul jawaban spesifik. Sebab dua kata itu secara harfiah menunjukan sosok seorang yang membuat segalanya sesuai dengan jabatannya. Tata cara bertindaknya pun bias sesuai aturan , bisa pula melanggar , tergantung niat sang pemangku jabatan tadi. Begitu tipis perbedaan didalamnya.

Tetapi dalam pikiran Hadi Prabowo, pemimpin dan penguasa tentu berbeda. Sama-sama punya kedudukan, wibawa dan keistimewaan, tetapi keduanya bisa punya nilai berbeda di hati masyarakat. Atau yang ada seluruhnya diusung oleh kekuatan partai politik . dan Hadi Prabowo yang berpasangan dengan Don Murdono disusun 6partai yakni, PKB,PPP,PKS, Gerindra,Hanura dan PKNU.

Bukan berarti pasangan Hadi Prabowo – Don Murdono antipati dengan kekuatan massa bisa digalang. Hadi pun memutuskan niatnya menjadi Calon Gubernur Jawa Tengah dengan berangkat  koalisi 6 partai.

Namun sebagai antisipasi jika nanti mendapat amanat rakyat untuk menjadi Gubernur Jawa Tengah, Hadi Prabowo tidak ingin disebut sebagai penguasa.” Saya lebih sreg dengan sebutan pemimpin,”katanya mantap.

Menurut bapak satu anak ini, karena calon gubernur siusung oleh kekuatan parpol,biasanya ketika sudah menjadi sosok penguasa.

Masyarakat menjadi komoditas politiksementara program-program yang dicanangkan hanya menimbulkan ketidak pastian dikalangan masyarakat. Sosok penguasa selalu bersandar pada organisasi politik yang menyusungnya. Ketika ada kritik atas tindakannya yang menyimpang, parpol pengusung membela matian-matian.

Tidak jarang penguasa berlindung idamkan Hadi Prabowo. Ia tetap menyandari sebagai bagian dari keuatan parpol, terutama parpol yang mengusungnya.

Tetapi ketika sudah didapuk menjadi seorang pemimpin, ia tidak akan mengorbankan masyarat sebagai komoditas politik. “Masyarakat harus menjadi objek pembangunan, bukan subyek,”katanya.

Satu hal lagi , figure pemimpin sacara otomatis akan menyadari dirinya sebagai motivator penggerak, punya kreatifitas, inovatif dan bekerja keras atas nama kepentingan rakyat tidak ada alas an politis dalam menjalankan kepemimpinan,meski kekuatan parpol sanantiasa dijadikan Patner atau mitra dalam menggali informasi soal kebutuhan sekaligus keluhan masyarakat.

Pengalaman segudang sebagai birokrat, bias menjadi modal bagi Hadi Prabowo. Seringnya turun kebawah mendengar aspirasi masyarakat, juga menjadi pemicu untuk mengubah Jawa Tengah yang sarat dengan problematika.

Tingginya angka kemiskinan, pengangguran dan sempitnya lapangan kerja, harus dicari jalan keluarnya segera mungkin.

Lima tahun memimpin telah diperhitungkan matang bagaimana mengola Jawa Tengah menjadi lebih baik, dengan motto “Sesarengan Bangun, Jawa Tengah”Pak Hadi mengajak masyarakat bersama membangun Jawa Tengah, dengan demikian kepercayaan masyarakat pemimpinnya benar-benar kamuflase. Dan itulah sebenarnya jatidiri seorang pemimpin, bukan penguasa, tandasnya.(pol.tim)

 

Wed, 3 Apr 2013 @00:50

Copyright © 2020 PCD TECH · All Rights Reserved